Back to News

Ekspor Timah Diprediksi Capai 78000 Metrik Ton di 2017

Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) memprediksi ekspor timah pada tahun 2017 akan mencapai 72.000-78.000 metrik ton, bila melihat kinerja penjualan timah hingga Juli 2017. Foto/Ilustrasi

 

NUSA DUA - Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) memprediksi ekspor timah pada tahun 2017 akan mencapai 72.000-78.000 metrik ton. Perkiraan tersebut, berdasarkan kinerja penjualan timah hingga bulan Juli 2017, yang sudah mencapai 42.000 metrik ton, 

"Kalau momentumnya tidak berubah, prediksi saya paling tinggi tahun ini ekspor bisa mencapai 78.000 metrik ton. Paling rendah 72.000 metrik ton. Tergantung perkembangan nanti apakah ada regulasi yang menghambat atau tidak," ujar Ketua Umum AETI Jabin Sufianto disela-sela acara Indonesia Tin Coference and Exhibition (ITCE) 2017 di Nusa Dua, Bali, Selasa (29/8/2017). 

Ia menambahkan dengan melihatkan penjualan yang stabil dalam enam bulan terakhir, menurutnya lumayan lebih tinggi dari tahun lalu mencapai 63.000 metrik ton. Dia juga berharap pemerintah tidak hanya mendukung dari sisi regulasi perdagangannya saja tetapi juga pada pasca penambangan.

Di bagian lain, Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) melalui anak usahanya, yakni PT ICDX Logistik Berikat (ILB) terus melakukan langkah strategis dalam mengembangkan pasar timah di dalam negeri. Dalam waktu dekat, ILB akan mengoperasikan Pusat Logistik Berikat (PLB) timah di akhir tahun 2017.

"Berdirinya ILB ini merupakan respons dari paket kebijakan pemerintah yang memberi peluang bagi pelaku usaha swasta untuk mendirikan PLB," ujar Komisaris Utama PT ICDX Said Aqil Siroj.

Dia melanjutkan, ILB telah mendapat izin resmi dari Dirjen Bea Cukai, Kementerian Keuangan, untuk mengoperasionalkan Pusat Logistik Berikat-PLB pada tahun 2016. Direncanakan tahap awal PT ICDX Logistik Berikat akan beroperasi di sentra produksi timah di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung.

"Jika tidak ada kendala yang berarti, kami rencanakan PT ICDX Logistik Berikat bisa beroperasi paling lama diakhir tahun 2017," tuturnya.

Direktur Utama ILB Henry Chandra mengatakan, berdirinya ILB akan memperpendek mata rantai logistik. Hal ini disebabkan ILB dapat berperan sebagai etalase dari berbagai komoditi unggulan strategis Indonesia. "Dengan terbitnya paket kebijakan ekonomi kedua dari Presiden Joko Widodo, maka ICDX akan mengintegrasikan tiga pasar sekaligus yakni pasar fisik, kontrak berjangka timah dan pergudangan- Pusat Logistik Berikat timah untuk tujuan ekspor," ujarnya.

Sambung Henry, Ditjen Bea Cukai pada 13 Juni 2017 lalu telah menerbitkan Peraturan Dirjen Bea Cukai No. Per-10/BC/2017 tentang Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari Pusat Logistik Berikat dalam Rangka Ekspor dan atau Transhipment. Kebijakan ini akan menjadi dasar beroperasinya PLB timah tujuan ekspor.

"Di masa mendatang ILB tidak saja sebagai penyimpanan komoditi timah, melainkan juga berpotensi untuk komoditi unggulan ekspor lainnya seperti nikel, bauksit, CPO, kopi, kakao, lada, karet, rumput laut dan lainnya. Ini merupakan terobosan baru bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.

(akr)
Oktiani Endarwati


29 Aug 2017



Back to News